Sometimes I regret things. Like how you told me you like me, but at the same time also warned me not to get hurt. How would you be that selfish... Sometimes I regret things, like how you convinced me you loved me and how you believed things would work out in the end. You shouldn't have ever told me your feeling, you should've just kept it to yourself. That would've saved me from another pain.....
I miss you so much I don't know how I should deal with this feeling of losing you, every day, every minute. Please don't blame me for being this weak. I never know how to love except for giving him your all, and that is how I get so hurt right now. The moment you turned cold to me, when you said me being this weak even had made it easier to let you move on from me... was the moment when I regretted the most why I would give you all my heart. Why I thought you're gonna be different. That was the very moment my wounded heart got torn... as if it was not wounded enough. But... that was also what made me have the strength to always fight the urge of texting you.....
You made me believe you were the right one I'd been patiently waiting for. Now you've let me go and while I hurt so deep, you took it as my weakness that even made you turn away from me more easily. You have made me happy, you have made me sad. You have made me strong. Whatever you have done, I thank you. Thank you for showing up in my life and stayed, and let me go. It's a mutual parting as you said... but you'll remain in my heart and my prayers.
Saturday, October 14, 2017
Things You Missed... (3)
I am getting stronger but my feelings for you are still here. My love for you is still as strong, the memories of us are still vivid.
Today a month ago, was when you showed me your phone wallpaper: our hands. Us holding hands. You said you missed me everyday so you never changed it. I bet you've changed it by now right.... Because you seemed to be handling our parting so cool. And I need to learn a bit from you...
I am really missing you so much right now... and every second of my breath. It's not even at night, it's now a clear bright day, but me lying in this bed waking up from a quick nap.... can only think of that very moment when we were doing nothing but holding hands. Last night too... The image of me waiting for you then walking fast to meet you at back entrance as soon as I'd received your message... The image of your smile welcoming me... How you quickly grabbed my hand then we walked together.... Each thing you said to me.... Even a day before we agreed to part ways you still sent me a video of you saying I love you. How sweet, and I miss all those moments. I miss you so much. I miss you too much.
You texted me this morning asking if I'm doing fine. I had no options but to answer you optimistically. You told me I could annoy you by being weak so how should I answer? Indeed I am getting stronger but actually... I'm still not fine. How can I be fine in just a week, tell me how could you be that strong. I can't even tell you things like, "Krispy Kreme is opening at Margo!", "That mango super popular drink has opened also", I wanted to tell you things like this, do you think I can do that? Will it undo my progress of moving on from you? When my heart is still not sure when it's willing to let you go. I have let you go, but my heart has its own timing and decision.... And that's what makes me most anxious. I am honestly afraid that my heart will be waiting for you silently. I am afraid of that knowing how persistent I could be when I'm already in love. I'm afraid....
I still don't dare to go to our usual places. I still have that one folder of our pics and vids in my phone, not sure when I will be able to remove it.... I will never delete it, I think. Maybe just remove it to the laptop. I'm hoping you'll do the same but.. if you do delete our memories then I'll still never know, I'll still keep mine. This is just how weak I am and blinded by love. But I guess this is one thing that makes me me. And I still thank you that you didn't agree to my stupid request wanting us to get back together. Thank you for being sober and keeping your words, not letting me get into another toxic relationship. It hurts so much now, missing you like this, having to let you go, but I'm determined I need to be a stronger version of myself and not getting self harm like last time. Not because of you. Because I love you and I want to become a better me for this love that grows in me. And in you. I'll show you I can. From this moment on, I'll only show the world that I'm fine. Let only Allah know what I and my heart are actually hiding from the world.... how I'm struggling inside. I miss you. Miss you.
Friday, October 13, 2017
Restoring My Faith (1)
Seberat apapun aku melalui perpisahan ini, jauh di lubuk hatiku aku meyakini ini adalah bentuk ujian dari Allah. Lagi. Karena Allah sayang aku. Aku ingin kembali ke jalan Nya, jadi Allah mau membuktikan apakah aku sungguh dengan niat taubatku atau aku masih gamang dan berpaling lagi.
Mungkin benar, kelemahan terbesarku sejak dulu adalah di hati. Hatiku lemah terhadap cinta. Cinta pertama sejak SMA, lelaki yang sempat mampir sejenak saat kelulusan kuliah, sampai aku mulai perlahan menjauh dari Allah dan meninggalkan Dia bertahun-tahun lamanya hanya karena seorang pria. Setelah gagal, aku menyalahkan Dia. Aku mulai mempertanyakan kenapa aku harus tetap di agama ini. Kecenderunganku sepertinya makin menjauh dari tuntunanNya. Jadi aku harus mengikuti kata hatiku atau kata Nya?
Jika kegagalan dengan pria yang kutangisi dulu membuatku jauh dari Allah, ujian kali ini rasanya berbeda. Entah kenapa aku merasakan ini bentuk kasih sayang Allah. Memang masih selalu tarik menarik antara suara kebaikan dan bisikan setan di dalam diriku, perang batin itu masih ada. Tapi berangkat dari keyakinan Allah sayang aku makanya mengujiku dengan perkara serupa, aku berusaha mendapatkan kekuatan terus untuk menunjukkan bahwa aku memang ingin kembali pada Nya.
Dalam beberapa bulan terakhir aku "gila" karena terlampau sakit dengan kisah yang lalu, aku kadang merenung, kenapa makin ke sini, aku makin tidak bisa sejalan dengan nilai-nilai Islam yang dulu kuyakini. Sepertinya makin aku melihat dunia, makin aku merasa Islam berat. Shalat 5 waktu, misalnya. Dan banyak kesukaanku yang kok dilarang di Islam. Contoh? Musik.
Lalu aku mulai berpikir, kalau mau kembali ke Allah, aku mesti meyakini dulu bahwa memang Islam adalah satu-satunya agama yang mesti kupegang. Biar bisa mempelajari ulang dari hati. Bagaimanapun aku terlahir muslim, dari kecil dididik secara muslim, dan hanya tahu agama-agama lain sepintas lalu saja. Jadi aku sempat sesekali mempelajari agama-agama lain. Syukurlah aku masih yakin terhadap Islam, dan selalu ada perasaan Allah memang Tuhan satu-satunya. Zat yang mencipta, mengatur, maha Kuasa. Dan itulah intinya Islam, tauhid. Jadi aku memutuskan akan memulainya dari situ. Sederhana. Sesederhana konsep ketuhanan di Islam: menyembah Tuhan yang satu-satunya.
Bahkan di saat-saat aku mempertanyakan banyak hal dan meragukan Islam, aku masih selalu merasa Islam spesial, bahkan cuma dari namanya. Sekarang aku mengembalikan keyakinanku: aku yakin Islam dengan konsepnya yang sederhana, sesederhana menyembah Tuhan yang satu, meyakini Nabi Muhammad sebagai nabi terakhir penyempurna ajaran-ajaran tauhid sebelumnya yang melaluinya Allah sampaikan ajaranNya. Sesederhana konsep beribadah yang tanpa perantara, yang hanya butuh mukena dan air wudhu. Cukup aku mulai dari situ untuk menumbuhkan lagi keimananku.
Aku nggak akan tiba-tiba berjilbab panjang, anti celana dan memakai kaus kaki setiap saat seperti dulu saat SMA atau mendadak berubah bergamis dan berjilbab sekaki dan mengaji salafi seperti yang saat ini sedang menjamur dimana-mana. Aku akan perlahan saja mengembalikan dulu keimananku. Kalau kondisi seperti ini aku dipaksa menjalankan Islam yang terlihat berat, aku mungkin malah akan mental duluan. Aku masih suka nyanyi, aku masih lebih suka mendengarkan lagu Korea saat menyetir, aku masih akan mendengarkan lagu saat mandi, dan mungkin malah aku akan mengangkat jilbabku. Tapi aku hanya akan menjalankan semuanya dari hati dan tanpa merasa terpaksa... Aku yakin agama bukan paksaan. Aku akan menjalankan semampuku, seperti artian doa pada zikir pagi dan petang yang beberapa hari ini mulai kubaca.
Yang terpenting bagiku sekarang, mengembalikan keyakinan bahwa Islam tidak sulit dan ajarannya sempurna. Sempurna, artinya benar. Bahwa aku masih mendengarkan musik karena aku belum sanggup menggantinya ke ayat-ayat Quran atau ceramah penguat iman (atau di kondisiku sekarang jadi pembeban). Bukan karena ajaran mendengarkan musik itu salah, karena konsep macam inilah yang membuatku merasa berat. Begitupun dengan yang lain-lainnya. Aku dulu menganggap "Jika tidak total, mending tidak sama sekali kan? Kalau mendengarkan musik haram dan aku berdosa karenanya, jadi mending aku sekalian tidak berislam saja? Kan jadi ga ada istilah dosa? Karena aku memang suka musik. Untuk apa menjalankan ini itu dengan perasaan oh ini dosa gue kayak gini, mana bisa orang hidup tenang dengan begitu? Sementara aku belum sanggup meninggalkannya?" Aku tidak akan tahan hidup dengan perasaan begitu. Jadi aku akan berdamai dengan diriku.... Berislam semampuku dulu. Akhir orang nggak ada yang tahu. Cukup doakan, jangan disinis-sinisi. Berislam dengan penuh keyakinan dulu. Bisa jadi aku suka musik sekarang tapi nanti ada satu titik aku jenuh atau dikasih peristiwa tertentu yang bikin aku sadar kenapa musik dilarang. Ajarannya nggak salah, hanya kita belum siap. Mungkin memang dosa, hanya belum sanggup kutinggalkan, Bukan mengecilkan dosa, tapi ini memang tidak sama dengan membunuh atau berzina, kan. Ada alasan musik dilarang, karena Allah lebih tahu. Aku masih mendengarkan, karena belum sanggup kutinggalkan, bukan karena ajarannya salah. Konsep macam ini yang sedang kutanamkan. Perkara dosa biar jadi urusan Tuhan. Toh yang kuyakini, orang akan ke surga karena rahmatNya. Menjalankan banyak amalan jika setengah hati, untuk apa?
Mengapa aku makin merasa Islam berat, mungkin karena aku makin cinta dunia. Wajar menurutku, karena kita hidup di dunia ini, dengan segala yang kita hadapi di dalamnya setiap harinya. Tapi kemudian, agama hadir jadi semacam rem atas besarnya kecintaan kita pada dunia ini. Karena jika menuruti keinginan manusia, pasti akan terus mengejar dunia tanpa henti. Mau kaya, mau hidup senang, mau pasangan rupawan, mau sehat terus. Padahal ada kekuatan super di luar sana yang mengatur itu semua, lho. Mau sehat terus biar bisa nikmatin dunia terus? Oke kita jalankan gaya hidup sehat, tapi tiba-tiba terserang kanker, kok bisa? Takdir. Tanpa keyakinan akan adanya Tuhan yang Maha Mengatur, aku nggak bisa bayangin bagaimana bakal kacaunya aku kalau terjadi hal-hal di luar perhitungan manusia.
Mungkin benar, kelemahan terbesarku sejak dulu adalah di hati. Hatiku lemah terhadap cinta. Cinta pertama sejak SMA, lelaki yang sempat mampir sejenak saat kelulusan kuliah, sampai aku mulai perlahan menjauh dari Allah dan meninggalkan Dia bertahun-tahun lamanya hanya karena seorang pria. Setelah gagal, aku menyalahkan Dia. Aku mulai mempertanyakan kenapa aku harus tetap di agama ini. Kecenderunganku sepertinya makin menjauh dari tuntunanNya. Jadi aku harus mengikuti kata hatiku atau kata Nya?
Jika kegagalan dengan pria yang kutangisi dulu membuatku jauh dari Allah, ujian kali ini rasanya berbeda. Entah kenapa aku merasakan ini bentuk kasih sayang Allah. Memang masih selalu tarik menarik antara suara kebaikan dan bisikan setan di dalam diriku, perang batin itu masih ada. Tapi berangkat dari keyakinan Allah sayang aku makanya mengujiku dengan perkara serupa, aku berusaha mendapatkan kekuatan terus untuk menunjukkan bahwa aku memang ingin kembali pada Nya.
Dalam beberapa bulan terakhir aku "gila" karena terlampau sakit dengan kisah yang lalu, aku kadang merenung, kenapa makin ke sini, aku makin tidak bisa sejalan dengan nilai-nilai Islam yang dulu kuyakini. Sepertinya makin aku melihat dunia, makin aku merasa Islam berat. Shalat 5 waktu, misalnya. Dan banyak kesukaanku yang kok dilarang di Islam. Contoh? Musik.
Lalu aku mulai berpikir, kalau mau kembali ke Allah, aku mesti meyakini dulu bahwa memang Islam adalah satu-satunya agama yang mesti kupegang. Biar bisa mempelajari ulang dari hati. Bagaimanapun aku terlahir muslim, dari kecil dididik secara muslim, dan hanya tahu agama-agama lain sepintas lalu saja. Jadi aku sempat sesekali mempelajari agama-agama lain. Syukurlah aku masih yakin terhadap Islam, dan selalu ada perasaan Allah memang Tuhan satu-satunya. Zat yang mencipta, mengatur, maha Kuasa. Dan itulah intinya Islam, tauhid. Jadi aku memutuskan akan memulainya dari situ. Sederhana. Sesederhana konsep ketuhanan di Islam: menyembah Tuhan yang satu-satunya.
Bahkan di saat-saat aku mempertanyakan banyak hal dan meragukan Islam, aku masih selalu merasa Islam spesial, bahkan cuma dari namanya. Sekarang aku mengembalikan keyakinanku: aku yakin Islam dengan konsepnya yang sederhana, sesederhana menyembah Tuhan yang satu, meyakini Nabi Muhammad sebagai nabi terakhir penyempurna ajaran-ajaran tauhid sebelumnya yang melaluinya Allah sampaikan ajaranNya. Sesederhana konsep beribadah yang tanpa perantara, yang hanya butuh mukena dan air wudhu. Cukup aku mulai dari situ untuk menumbuhkan lagi keimananku.
Aku nggak akan tiba-tiba berjilbab panjang, anti celana dan memakai kaus kaki setiap saat seperti dulu saat SMA atau mendadak berubah bergamis dan berjilbab sekaki dan mengaji salafi seperti yang saat ini sedang menjamur dimana-mana. Aku akan perlahan saja mengembalikan dulu keimananku. Kalau kondisi seperti ini aku dipaksa menjalankan Islam yang terlihat berat, aku mungkin malah akan mental duluan. Aku masih suka nyanyi, aku masih lebih suka mendengarkan lagu Korea saat menyetir, aku masih akan mendengarkan lagu saat mandi, dan mungkin malah aku akan mengangkat jilbabku. Tapi aku hanya akan menjalankan semuanya dari hati dan tanpa merasa terpaksa... Aku yakin agama bukan paksaan. Aku akan menjalankan semampuku, seperti artian doa pada zikir pagi dan petang yang beberapa hari ini mulai kubaca.
Yang terpenting bagiku sekarang, mengembalikan keyakinan bahwa Islam tidak sulit dan ajarannya sempurna. Sempurna, artinya benar. Bahwa aku masih mendengarkan musik karena aku belum sanggup menggantinya ke ayat-ayat Quran atau ceramah penguat iman (atau di kondisiku sekarang jadi pembeban). Bukan karena ajaran mendengarkan musik itu salah, karena konsep macam inilah yang membuatku merasa berat. Begitupun dengan yang lain-lainnya. Aku dulu menganggap "Jika tidak total, mending tidak sama sekali kan? Kalau mendengarkan musik haram dan aku berdosa karenanya, jadi mending aku sekalian tidak berislam saja? Kan jadi ga ada istilah dosa? Karena aku memang suka musik. Untuk apa menjalankan ini itu dengan perasaan oh ini dosa gue kayak gini, mana bisa orang hidup tenang dengan begitu? Sementara aku belum sanggup meninggalkannya?" Aku tidak akan tahan hidup dengan perasaan begitu. Jadi aku akan berdamai dengan diriku.... Berislam semampuku dulu. Akhir orang nggak ada yang tahu. Cukup doakan, jangan disinis-sinisi. Berislam dengan penuh keyakinan dulu. Bisa jadi aku suka musik sekarang tapi nanti ada satu titik aku jenuh atau dikasih peristiwa tertentu yang bikin aku sadar kenapa musik dilarang. Ajarannya nggak salah, hanya kita belum siap. Mungkin memang dosa, hanya belum sanggup kutinggalkan, Bukan mengecilkan dosa, tapi ini memang tidak sama dengan membunuh atau berzina, kan. Ada alasan musik dilarang, karena Allah lebih tahu. Aku masih mendengarkan, karena belum sanggup kutinggalkan, bukan karena ajarannya salah. Konsep macam ini yang sedang kutanamkan. Perkara dosa biar jadi urusan Tuhan. Toh yang kuyakini, orang akan ke surga karena rahmatNya. Menjalankan banyak amalan jika setengah hati, untuk apa?
Mengapa aku makin merasa Islam berat, mungkin karena aku makin cinta dunia. Wajar menurutku, karena kita hidup di dunia ini, dengan segala yang kita hadapi di dalamnya setiap harinya. Tapi kemudian, agama hadir jadi semacam rem atas besarnya kecintaan kita pada dunia ini. Karena jika menuruti keinginan manusia, pasti akan terus mengejar dunia tanpa henti. Mau kaya, mau hidup senang, mau pasangan rupawan, mau sehat terus. Padahal ada kekuatan super di luar sana yang mengatur itu semua, lho. Mau sehat terus biar bisa nikmatin dunia terus? Oke kita jalankan gaya hidup sehat, tapi tiba-tiba terserang kanker, kok bisa? Takdir. Tanpa keyakinan akan adanya Tuhan yang Maha Mengatur, aku nggak bisa bayangin bagaimana bakal kacaunya aku kalau terjadi hal-hal di luar perhitungan manusia.
Thursday, October 12, 2017
O Allah, give me strength to go through this trial.
You know your creatures best. You know how I am struggling. It is extremely hard for me. Please give me some miracle so I could overcome it.
Falling apart at nights, after trying super hard at days. Trying extra hard to ignore the stuffy feelings when he came haunting you with only all sweet memories. Missing someone never feels so heavy because you know you can't have it happen for real anymore.
O Allah forgive me for being this weak, for missing him this much. But help me through this misery....
You know your creatures best. You know how I am struggling. It is extremely hard for me. Please give me some miracle so I could overcome it.
Falling apart at nights, after trying super hard at days. Trying extra hard to ignore the stuffy feelings when he came haunting you with only all sweet memories. Missing someone never feels so heavy because you know you can't have it happen for real anymore.
O Allah forgive me for being this weak, for missing him this much. But help me through this misery....
Things You Missed... (2)
Hey, baby kid.
I'm getting stronger today but there's something I wanted to share to you yesterday. You know, like always. Look at this picture below:
I'm getting stronger today but there's something I wanted to share to you yesterday. You know, like always. Look at this picture below:
No you don't have no idea what they are :p
My father #1 at office (you know who we're talking about ok, don't get more count on FV!) once challenged me to eat the small round fried thing. I tell you that is called Combro, made of cassava and has oncom filling. Oncom is... you can Google it hehe. So usually Combro comes in bigger, like twice the size shown above, so this is mini Combro. So one day father #1 just got back from the meeting room and with his face expression like he just ate something crazily spicy, he was like "Sar, try the combro. Have you? They got this super hot chili paddy inside oh I'm burning, spicy as hell!" so I calmly said, "I ate, Pak. That is completely nothing to me...." a grin on my face. "Ah you sure? Try eat 3 of them!" so I replied, "I ate 1 and also the chocolate banana roll, Pak. Not that I can't eat more combro but you know I'm trying to watch my calories..."
That was maybe a week prior to yesterday. Yesterday in the monthly meeting, we had what's on the pic for snack! I was having difficulty concentrating during the meeting you know what, I couldn't mention the name of the next one to do the presentation right away, I was like, "...that will be presented by... (seconds of silence) Pak X." Hahaha. Yes I was gloomy yesterday, yesterday I was weak but today I've been getting stronger. So my lack of concentration was to blame you my weak heart, not because I was craving for the snacks ok....
So... well... After the meeting ended, Father #1 started eating the chocolate banana roll haha. He had had enough with the Combro, he said to the Marketing Manager when he told him he accidentally ate the chili inside the mini combro as he'd forgotten it had chili inside, "Spicy as hell!", he said. Father #1 then replied, "That's why I'm eating the banana." Then he just suddenly noticed me in front of him tidying up the projector and laptop, his eyes cheeky, and I got this feeling that he was going to let me do the challenge. And I was right. So confidently, I ate 1.... calmly. He was, "Did you throw away the chili inside?" Noooo hahaha. So I ate the second piece... even more calmly and carefully showed him bite by bite I ate. And finally, I grabbed the last piece... still needed no water... still ate it calmly.... and I really did not drink anything. Uselessly proud of myself *self applause*. "Pak, I honestly can eat the whole plate still without drinking, you know. I'm just watching my calories... haha" and he was still stunned and started to complement me, while the Purchasing Manager who knows me sooo well, seated next to him, had always tried to sell me since the first pc of combro I ate, "Pak, you just had no idea. When I cooked her food with to me highest level spiciness, she would say it wasn't spicy enough.... This combro is really nothing for her." So I won, but.... for no reward. Hahaha.
So, baby kid. That's a not important at all story I wanted to tell you yesterday... Noona was very weak, which would annoy you... But she's trying hard to be stronger. You won't read this, but Noona wants you to know that she was having a bad day yesterday, lack of concentration in everything, even hit her hip again to some solid things, which you used to comment "not because you're too skinny but you are clumsy". Hehe. Noona starts to smile and laugh a lot today, because she had got some texts from you in the morning, and because she keeps trying more to be stronger. She doesn't want to annoy you or disappoint you. But missing you every second is really hard for her... She still falls apart like when she was suddenly missing you too much in the lunch time she got teary again in the corner of her desk today.... Noona still finds no way to move on from you, she sometimes gets anxious from the thought you would easily forget her and find her replacement.... But she has no choice but to live on.... And tries to put more and more faith to the Creator. There's no other way other than letting God do His work on this, this is what she believes, the immature Noona who always thinks of you, mature baby kid.
A Pic to Recall (1)
Hey, FV.
Or should I say SV in this case. Haha.
You're so smart, I know you should recall to the same memory as what I recall, seeing this picture. I took this pic yesterday. Notice the rings position? What would you say last time seeing it?
"People will think you're taken then",
"I don't care....".
"But you are taken (put your favorite face here)".
Let me tell you. I am not going to change anything now even though you have let me go. Do not ever challenge me in term of loyalty... You may be gone, we may have been over, but my feelings remain here!
Or should I say SV in this case. Haha.
You're so smart, I know you should recall to the same memory as what I recall, seeing this picture. I took this pic yesterday. Notice the rings position? What would you say last time seeing it?
"People will think you're taken then",
"I don't care....".
"But you are taken (put your favorite face here)".
Let me tell you. I am not going to change anything now even though you have let me go. Do not ever challenge me in term of loyalty... You may be gone, we may have been over, but my feelings remain here!
Subscribe to:
Posts (Atom)


